sulawesi

Menilik Lebih Dekat Keindahan Pulau Labengki

pulau-labengki-sulawesi-tenggara-12

Main ke Sulawesi yuk, khususnya bagian Tenggara. Ada banyak pulau cantik yang bisa kamu temui di sini. Pokoknya gak usah dipertanyakan lagi secantik apa pulaunya, kamu akan melihat dan merasakan bangganya ada pulau secantik ini. Apalagi kamu datang ke pualu Labengki.

Pulau Labengki terletak di kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Pulau ini gak kalah bagus dari Wakatobi atau Raja Ampat yang sudah lama terkenal. Namun, baru-baru ini pulau Labengki menjadi hits karena keindahan yang di milikinya.

Siapa sangka, kini pulau ini menjadi primadona dan sering dikunjungi oleh pecinta traveling dan menjadi perbincangan para netizen di media sosial. Udah pada tahukan, kalau netizen udah pada nyinyir, pasti dunia heboh dibuatnya.

Nah kalau traveling ke pulau Labengki, kamu bisa ngapain aja sih? Kebetulan saya pribadi lebih suka explore sedikit lebih dalam lagi, karena setiap perjalanan kan memiliki cerita. Kadang cerita saya dengan travel blogger lainnya bisa berbeda. Dan inilah pengalaman saya pribadi dengan mengenal lebih dekat pulau Labengki.

Keunikan Pulau Labengki

pulau labengki sulawesi tenggara 11 1024x768 - Menilik Lebih Dekat Keindahan Pulau Labengki
Welcome to Labengki Island

Mungkin sebagian kamu bertanya-tanya apa aja sih yang unik dari pualu Labengki? Nah yang paling membuat saya tertarik adalah area tempat tinggal masyarakat di pulau ini. Lebih tepatnya kehidupan mereka. Udah dari jauh-jauh hari penasaran mereka tinggal seperti apa sih di sana.

Masyarakat yang tinggal di sini adalah suku Bajo. Namun mereka sudah menerima perkembangan era saat ini. Sudah mengenal yang namanya teknologi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Di sana sudah ada televisi, signal provider, handphone, dan lainya.

Baca : Rumah Nenek Sombori

Kalau kamu datang ke sini gak usah khawatir takut gak ada sinyal. Sinyal di sini cukup bagus kok, apalagi menggunakan provider si kartu merah. Udah pasti dapet sinyal dan tetap bisa kabari keluarga bahkan update media sosial milikmu.

pulau labengki sulawesi tenggara 10 1024x768 - Menilik Lebih Dekat Keindahan Pulau Labengki
Sambutan hangat dari anak-anak suku Bajo

Sungguh menyenangkan bisa melihat dan menyapa lebih dekat dengan suku Bajo pulau Labengki. Ketika baru tiba di sana, anak-anak kecil menyambut kami dengan senyum dan sapa hangat mereka. Mereka tak malu-malu menyapa dan menggandendeng tangan kami dengan lembut.

Satu keunikan mereka yang umumnya tinggal di daerah pesisir pantai atau laut adalah “Om koin om, om koin om, lempar koinnya om” sambal menari indah di dalam air dan meloncat dari jembatan yang ada di dermaga. Sungguh riangnya mereka dengan kegiatan seperti itu.

Anak-anak Pulau Labengki

Namun saya sadar kegiatan seperti itu tak lain sama dengan meminta-minta, oleh karena itu sebelum datang ke sini, saya diberitahu untuk tidak memberikan koin kepada anak-anak yang menari di dermaga. Koin yang biasa mereka minta diganti dengan sesuatu tapi harus melakukan “aksi”.

pulau labengki sulawesi tenggara 8 1024x768 - Menilik Lebih Dekat Keindahan Pulau Labengki
Kalau yang cantik, pasti jadi bahan rebutan

Yang disarankan untuk diberikan kepada mereka seperti permen, coklat, makanan ringan, buku, alat tulis, dan lain semacamnya. Eits, tapi gak dikasih langsung begitu aja, karena mereka bisa berebutan sambal berkelahi satu sama lainnya. Sebelum dikasih, mereka diberikan tantangan seperti bernyanyi, berhitung, membaca, atau lainnya yang setidaknya mengasah kemampuan dan berguna bagi mereka.

Dari semua pemberian kami, ada satu yang bisa dibilang aneh bagi anak-anak di sana, yaitu ketika saya makan “kwaci”. Biasanya mereka kalau ditawarin sesuatu pasti langsung berebut, tapi berbeda ketika saya tawari kwaci. Tatapan mereka terlihat kepingin, tapi terlihat aneh. Lalu saya tanya lagi, adek-adek mau kwaci gak? Mau kak, tapi itu apa? Jawab salah satu dari mereka. Oh ini namanya kwaci, lanjut saya.

Bingung sih melihat mereka, pikir saya mungkin mereka belum tahu kwaci dan bingung gimana cara makannya. Sambil terus melihat saya makan kwaci dan menelan ludahnya sendiri, akhirnya saya dan coba ajarkan mereka cara makan kwaci. Dan mereka antusiasnya tinggi, seperti biasa langsung berebut sambal berantem. Huh capek juga memisahkan mereka, tapi saya rebut kembali kwacinya dibagi rata biar gak ada yang berantem lagi.

Setelah itu saya mengajari mereka gimana caranya makan kwaci. Tapi ada yang lucu salah satu mereka, tiba-tiba menyerah dan bilang “kak saya tidak bisa” sambal kasih kwacinya setelah digigit dia dan penuh dengan air liurnya. Gimana gitu ya? Tapi saya terus paksa dia biar bisa buka sendiri. Dan akhirnya dia berhasil buka sendiri. Jadi kwacinya habis oleh mereka.

Hanya Ada Satu Masjid

pulau labengki sulawesi tenggara 2 1024x768 - Menilik Lebih Dekat Keindahan Pulau Labengki
Masjid yang ada di sini

Mayoritas penduduk pulau Labengki adalah muslim. Bagi kamu yang muslim, gak usah khawatir buat ibadah di sini, karena ada satu masjid tersedia di sini. Masjidnya gak begitu mewah seperti masjid raya gitu, tapi cukup sederhana dan nyaman kok.

Menara Mercusuar, Ikonik Pulau Labengki

pulau labengki sulawesi tenggara 768x1024 - Menilik Lebih Dekat Keindahan Pulau Labengki
Menara Mercusuar pulau Labengki

Selain terkenal gugusan pulau yang cantik, pulau Labengki juga memiliki menara Mercusuar yang menjadi ikonik juga. Pokoknya kalau ke sini harus coba naik ke atasnya. Kamu akan melihat keindahan Labengki dari atas dan melihat di jendela, pemandangannya sangat mengagumkan.

pulau labengki sulawesi tenggara 7 1024x768 - Menilik Lebih Dekat Keindahan Pulau Labengki
Jalan menuju menara Mercusuar

Satu hal yang harus kamu tahu adalah menara Mercusuar kondisinya cukup memprihatinkan. Pertama kamu harus melewati jendela yang dibongkar dan harus sedikit naik. Usahakan bagi cewek pakai celana ya jangan pakai rok, biar gampang naiknya.

Kedua, untuk mencapai ke puncak menaranya, kamu harus naik anak tangga. Tapi kondisinya bikin ngeri, karena beberapa anak tangga ada yang hilang akibat keropos. Selain itu juga di beberapa bagian gak ada pegangannya, ngeri-ngeri sedap deh pokoknya.

pulau labengki sulawesi tenggara 6 768x1024 - Menilik Lebih Dekat Keindahan Pulau Labengki
pulau labengki sulawesi tenggara 1 768x1024 - Menilik Lebih Dekat Keindahan Pulau Labengki
Anak tangga yang gak ada pegangannya

Tapi kalau sudah berhasil naik ke atas, kamu akan disuguhi pemandangan yang ciamik. Kamu bisa lihat pemandangan dari jendela bagaimana indahnya pulau Labengki ini. Bisa lihat gugusan pulau kecil yang ada disekitarnya dan dikelilingi warna air laut biru kehijauan.

pulau labengki sulawesi tenggara 5 930x1024 - Menilik Lebih Dekat Keindahan Pulau Labengki

Kalau sudah puas melihat pemandangan dari atas, kini saatnya dihadapi tantangan lagi yaitu turun tangga. Pada dasarnya anaknya takut ketinggian jadi makin risih. Udah anak tangganya ada yang hilang, gak ada pegangan, ditambah goyang-goyang kalau diinjek. Ditambah kaki pun ikut gemeter. Lengkap sudah rasanya, tapi yang penting sudah pernah naik ke puncak menara Mercusuar pulau Labengki.

Listrik dan Air Yang Terbatas

Buat kamu yang memutuskan untuk traveling ke pulau Labengki akan terasa berat kalau gak bisa hidup dari listrik, atau malah senang lagi? Karena di sini kamu bisa menikmati listrik hanya malam saja, yaitu mulai dari jam 18.00 WITA sampai jam 05.00 WITA aja.

Nah kalau listrik sudah nyala, sebaiknya peralatan yang membutuhkan listrik, segera diisi lagi untuk persiapan travelingnya. Minimal hp, powerbank dan baterai kamera menjadi prioritas buat diisi. Dan harap bawa colokan listrik sendiri ya biar gak berebut sama yang lainnya.

Baca : Pantai Munggu

Selain listrik yang terbatas, air juga cukup terbatas. Pasti udha tahu dong kalau pergi ke pulau gitu, tentu agak sulit mendapatkan air tawar, begitu juga di pulau Labengki ini. karena kami tinggal di homestay, pemiliknya pun harus ambil air tawar dari sumbernya.

sumber air pulau labengki 768x1024 - Menilik Lebih Dekat Keindahan Pulau Labengki

Mereka biasanya minta tolong orang juga buat ambilkan airnya atau beli. Tapi ada beberapa rumah pakai pompa listrik buat ambil airnya, kalau jaraknya dekat dengan sumber air tawar. Jadi ketersediaan airnya cukup banyak dan lebih praktis kalau pakai pompa, gak capek buat angkut.

Saya sendiri penasaan sama sumber air yang ada di sini, setelah tanya-tanya ketemulah sumber airnya. Ini letaknya di salah satu rumah warga, beruntung banget pemilik rumah ini gak perlu jauh-jauh buat dapetin airnya. Dia juga pasang pompa dan ditampung di penampungan air miliknya.

Sarapan Di Tepi Pantai

sarapan pulau labengki 1024x768 - Menilik Lebih Dekat Keindahan Pulau Labengki
Menu sarapan sederhana, tapi nikmatnya luar biasa

Jarang-jarang banget bisa sarapan ditemani pemandangan yang indah gini kan ya. Apalagi buat yang tinggalnya jauh dari pantai seperti saya ini. Ngerasain begini aja udah senangnya minta ampun. Bangun pagi-pagi, mandi, dan sarapan persis dipinggir pantai.

Beruntung juga sih sewa homestaynya tepat di pinggir pantai, jadi tiap pagi dibuat puas banget. Rasanya ingin tiap hari bisa seperti ini. Sarapan apapun akan terasa enak dan pasti lupa dengan rasanya. Mau manis, asem, asin, pahit, mungkin akn terasa enak aja gitu.

Nah, dari pengalaman ke pulau Labengki ini banyak banget yang bisa saya petik. Bisa merasakan bagaimana tinggal dan bermain bersama suku Bajo, listrik Cuma nyala hanya di malam hari, air tawar yang terbatas, sarapan di tepi pantai, naik ke atas mercusuar, dan yang paling mengesankan bisa menikmati pemandangan yang sangat indah. Kalau ditanya mau balik lagi ke sana apa gak? Saya jawab mau banget. Terus kamu kapan ke sana? Jalan Yuk, Kuy Jalan

Sedih, Rumah Nenek Di Sombori Roboh

rumah-nenek-sombori

Kawan, apa yang ada didalam pikiranmu ketika mendengar kata Sulawesi? Pasti banyak yang tahu tentang adat dan tempat yang sangat indah, betul kan? Kalau begitu saya setuju banget. Dan dari semua keindahan di sana, ada satu tempat yang mencuri hati saya yaitu rumah nenek Sombori.

Nama Sombori kini mencuat di kalangan pecinta traveling. Berkat banyaknya travel blogger yang mengekspos tempat ini, Sombori terus-terusan kebanjiran pendatang. Mungkin beberapa tahun sebelumnya, banyak sekali yang belum pernah mendengar namanya bahkan tidak tahu sama sekali.

Banyak spot yang kece banget di sana, salah satunya rumah nenek. Rumah ini menjadi salah satu spot yang wajib kamu datangi ketika berkunjung ke Sombori. Asli, tempatnya bagus banget dan unik banget kalau datang ke sana

Pertanyaannya, itu nenek siapa sih yang rumahnya banyak dikunjungi travel blogger Indonesia? Sampai salah satu artis ganteng Indonesia pun bela-belain datang ke sana. Coba lihat foto berikut, pasti kamu tahu dong artis siapa ini:

Hamish Daud
Hamish Daud sedang berkunjung ke rumah nenek (sumber: instagram)

Nenek tersebut bernama nenek Indong. Beliau tinggal di sebuah rumah panggung yang posisinya diatas laut. Ketika ditanya umurnya, neneknya bilang umurnya sudah 100 tahun lebih, tapi saat ditanya 100 berapa beliau hanya bilang 100 tahun lebih.

Karena penasaran dengan usia yang aslinya, saya pun coba tanya ke guide dan jawabannya gak ada yang tahu pasti berapa tahun usianya. Nenek akan menjawab berbeda-beda ke setiap yang tanya, dan jawabannya tergantung mood nya nenek. Garuk-garuk kepala sih karena bingung berapa usia sebenernya.

Tapi gak usah dipikirkan masalah usianya deh, yang jelas di sini saya hanya ingin tahu kenapa rumah nenek ini bisa menjadi destinasi wisata paling favorit kalau traveling ke Sombori. Dan memang benar ada tiga keunikan dari rumah nenek ini:

Keunikan Rumahnya

Rumah Nenek Sombori
Rumah Nenek Sombori

Menurut saya, inilah yang paling unik dari rumah nenek. Rumahnya terbuat dari kayu yang berdiri kokoh diatas laut. Dibawahnya terdapat air yang luar biasa indahnya. Air lautnya berwarna hijau tosca. Dan kalau mau ke rumahnya harus menyebrangin papan yang dianggap sebagai jembatan.

Baca: Suka Mengunjungi Tempat Wisata Indonesia? 

Ya iya kan namanya juga rumahnya di tengah laut. Jadi membutuhkan usaha juga buat bisa singgah ke rumahnya. Jadi ketika mau ke rumahnya, kapal kamu harus berhenti di rumah anaknya nenek. Nanti dari rumah itu kamu menyebrang menggunakan papan.

Sombori
Pemandangan di sekitar rumah nenek

Pemandangannya sungguh aduhai, melihat air laut yang bagus banget, dan pulau seperti gugusan pulau karang yang dipenuhi pepohonan yang hijau. Mungkin warna hijau tosca nya juga pengaruh dari warna hijaunya tumbuhan itu.

Aktivitas Di Rumah Nenek

Rumah Nenek Indong Sombori
Nenek sedang siap-siap menyambut kedatangan tamu

Nenek Indong ini orangnya ramah sekali, dan beliau senang sekali bercerita tentang kehidupannya dulu. Cerita ketika negara ini masih dijajah Jepang dan Belanda. Kita bisa tahu bagaimana perlakuan para penjajah di masa lalu.

Nenek Indong Sombori

Selain mendengarkan cerita, kamu juga bisa bermain kano. Di sana terdapat kano yang bisa kita pakai. Namun sayangnya saya gak sempat bermain kano, karena terlalu buru-buru untuk mengejar spot berikutnya.

Saya hanya mengobrol nersama nenek dan coba masuk ke rumah anaknya, karena penasaran isinya rumahnya ada apa ya? Dan coba minta izin ke nenek buat masuk. Inilah isi di dalam rumahnya:

Rumah Nenek Sombori
Sebelum masuk ke dalam rumahnya, foto dulu lah ya

Isi Rumah Nenek Sombori
Tempat tidur nenek

Isi Rumah Nenek Sombori
Isi Rumah Nenek Sombori

Isi Rumah Nenek Sombori
Perlengkapan dapur nenek

Secara keseluruhan isinya sama aja, ada Kasur, kelambu, gorden, tikar, dan lainnya. Untuk dapurnya juga masih menggunakan kayu bakar untuk memasaknya. Tapi kamar mandinya unik banget, coba lihat penampakannya:

Isi Rumah Nenek Sombori
Kamar mandi yang pintunya hanya setengah

Kamar mandinya hanya ditutupi setengah tirai yang terbuat dari terpal berwarna biru. Lalu ada papan yang sengaja dibuat seperti lubang. Lubang tersebut dibuat untuk buang air besar dan kecil biar bisa jatuh ke laut.

Isi Rumah Nenek Sombori

Kebetulan juga saat saya datang udah kebelet pengen BAB dan BAK, tapi setelah melihat kamar mandinya, gak jadi BAB. Alasannya, pertama gak ada tanda kalau di kamar mandi sedang ada orang, kedua takut mengeluarkan suara bom atom yang jatuh ke laut. Hehehehe.. Jadi ditahan aja deh. Hahaha.

Makanan Khas Nenek

Renginang Buatan Nenek
Renginang Buatan Nenek

Pertama datang ke rumah nenek, saya disambut dengan keramahannya. Tak lupa, nenek juga menyuguhi makanan yang udah dibuatnya yaitu rengginang (sebutan saya sih). Rasanya beda dari rengginang yang suka dibuat nenek saya.

Rasa rengginangnya manis banget. Saking manisnya banyak yang gak habis. Kalau saya sih makan sampai habis, karena menghargai pemberian nenek. Toh makan yang manis-manis seperti itu juga jarang kok.

Nenek Sombori
Nenek lagi masak air panas untuk bikin kopi

Selain rengginang, nenek juga menyuguhi kopi. Juju raja, saya gak bisa minum kopi, tapi karena nenek bilang suruh cicipi, ya gak ada salahnya kan. Pas udah nyicipi, eh saya minta nambah. Duh maaf ya nek, kopinya terlalu enak. Dan makasih banyak atas suguhannya.

Biasanya nenek juga membuat pisang goreng yang disebut dompo. Karena ada suatu hal, nenek gak sempat bikin dompo. Padahal katanya selalu bikin dompo buat menyambut orang-orang yang berkunjung ke rumahnya. Duh, nenek baik banget.

Tradisi Di Rumah Nenek

Rumah Nenek Sombori

Satu tradisi di rumah nenek yang saya dapatkan, yaitu harus menerima pemberian apapun dari nenek, jangan pernah menolaknya. Karena sudah sering terjadi kejadian yang tak terduga dan tak diinginkan setelah pulang dari rumah nenek.

Baca: Tak Sengaja Menemukan Rumah Hutan

Nenek pun bercerita katanya kemaren ada anak yang ditawari makanan, tapi dia menolak  dan gak mencicipi sama sekali. Pas pulang, kameranya jatuh ke laut dari atas kapalnya. Dan guide pun bilang hal yang sama. Kalau nenek nawarin apa gitu, suka gak suka terima aja. Walaupun dicoba sedikit pun gak masalah.

Intinya, hargailah pemberian dari orang lain, walaupun itu kecil atau sesuatu yang tidak kamu sukai, terimalah dengan baik. Toh, orang tersebut sudah memberikan sesuatu yang terbaik yang dimilikinya dan tanpa pamrih.

Hal Yang Paling Menyedihkan

Rumah Nenek Sombori Roboh
Rumah neneknya roboh :'(

Dari semua cerita dan pengalaman yang telah saya ceritakan diatas, ada satu kejadian yang membuat saya sedih. Apa itu? Saat saya datang, rumah nenek roboh. Ya Allah, sedih banget ngebayangin rasanya gimana rumahnya roboh. Bersyukur nenek masih selamat.

Yang paling saya takutkan itu, saat rumahnya roboh, nenek berada di dalam rumahnya. Tapi, nenek cerita entah kenapa, dari sore nenek pingin ke rumah anaknya yang di sebelah rumah nenek. Dan tiba-tiba angin kencang menghampiri nenek di malam hari. Sehingga rumahnya roboh.

Nenek pun rasanya gemetar ketakutan, bagaimana kalau nenek berada di rumahnya itu. Nenek pun sampai nangis, dan berpikir mungkin ini waktunya meninggal. Tapi bersyukur nenek masih selamat dengan kondisi yang baik.

Jadi, foto-foto di rumah yang diatas adalah foto rumah anaknya nenek ya. Bukan isi rumah nenek, karena rumahnya roboh duluan saat saya berkunjung. Semoga nenek sehat selalu ya, dipanjangkan umurnya, dan selalu diberikan berkah yang banyak.

Kawan, kalau kamu mau traveling dan mau ajak saya, boleh banget lho. Nanti kita buat cerita seru bareng. Pokoknya kalau mau ngajak jalan, bisa hubungi saya di sini atau Instagram @budichexo. Jalan bareng yuk, kuy jalan bareng! – Yukkuy

Perjalanan Menantang Menuju Desa Ollon Di Toraja

desa-ollon-toraja

Kawan, apa yang kalian pikirkan ketika mendengan kata Toraja? Pasti banyak yang menjawab tentang adat istiadat, budaya, dan tempat bersejarah mereka kan? Mengingat mereka masih kental sekali dengan hal tersebut. Namun siapa sangka, di Toraja ada tempat yang sangat bagus buat kamu kunjungi, sebut saja namanya desa Ollon.

Setelah tahu dari travel blogger Indonesia yang pernah ke sana, saya penasaran sekali ingin datang ke desa Ollon Toraja. Melihat foto di Instagram dan membaca cerita di blognya sungguh menggoda hati. Hampir setiap hari, nama desa itu selalu terbayang-bayang dipikiran saya. Entah kapan bisa ke sana?

Setelah saya pulang traveling dari Nusa Penida Bali, saya terus mencari dan mengumpulkan informasi tentang desa itu. Banyak informasi yang saya dapatkan setelah mecari di internet dan media sosial. Ada yang menyebutkan bahwa tempatnya sangat indah, mirip bukit teletubbies, mirip bukit di Sumba, bahkan yang lebih ektstrim bilangnya jangan pergi ke tempat itu.

Akhirnya saya memutuskan untuk coba pergi ke sana. Awalnya berpikir mau pergi ke sana sendiri alias solo traveling, karena kalau mengajak temen pasti gak mau atau gak jadi. Semangat banget buat pergi ke sana, tapi setelah mendapatkan banyak informasi, nyaliku menciut. Hahaha..

Tapi rasa penasaran ini masih ada. Dipikir-pikir kalau sendiri ya lumayan risih juga sih, katanya jalanan menuju ke tempat itu beneran ekstrim banget. Kebetulan saya juga oranganya suka tantangan, ya kenapa gak coba aja. Toh kalaupun emang gak sanggup, ya pulang lagi juga gak apa-apa. Yang penting dicoba dulu.

Baca: Gumuk Pasir Sumalu Di Toraja Utara

Disaat lagi berpikir pergi sendirian itu takut, tiba-tiba muncul ide cari guide aja buat antar ke sana. Akhirnya coba cari guide yang bisa bantu untuk mengantar ke sana. Dan untungnya dapat kontak salah satu guide yang biasa antar ke sana. Setelah tanya harganya, wah gak masuk kantong nih. Mahal juga ternyata.

Pas kaget denger harganya, langsung ingat perasaan punya kontak temen orang Makassar deh, tapi ternyata gak punya nomor hp nya. Coba cari kontaknya lagi di facebook, dan akhirnya dapet juga kontaknya. Langsung tanya aja bisa gak anterin explore Toraja khususnya ke desa Ollon?

Dia langsung jawab, maaf gak bisa antar. Damn, matilah kalau gak ada yang bisa antarin ke sana. Mengingat dia juga masih kuliah, jadi gak mungkin paksa dia suruh bolos kuliah. Untungnya dia baik banget orangnya, dan kasih kontak orang Toraja asli. Bilang coba aja hubungi ini, namanya Iwan, tapi manggilnya Kanda Iwan ya. Karena panggilan orang Toraja seperti itu, dan biar lebih akrab juga.

Oh iya, dia itu Namanya Amrin. Akhirnya saya hubungi Kanda Iwan, orangnya asyik banget dan beruntungnya dia bisa antar. Saya banyak tanya kalau mau ke desa Ollon enaknya pake kendaraan apa ke sana? Karena banyak yang bilang mendingan pake mobil jeep atau motor trail.

Gak harus pake mobil jeep atau motor trail juga bisa kok, saya juga biasa pake motor Vario 125, jawabnya. Wah berarti pake motor Vario pun bisa, asalkan minimal yang 125 cc. Langsung lega rasanya kalau bisa pake Vario mah, secara saya hamper tiap hari kan pake motor itu. Kalau harus pake motor trail, rasanya gak bisa karena belum pernah pake.

Akhirnya langsung buat perhitungan semua biaya untuk traveling ke Toraja. Mulai hitung budget tiket pesawat, bus, sewa motor, penginapan, makan, dan lainnya. Pasti udah pada tahu semua kan ya mengenai itu. Tapi saya tetap pegang tips traveling hemat juga agar pas di Toraja gak terlalu boros.

Setelah semua informasi didapat, tiba-tiba info share cost traveling ke Sombori. Wah pas banget nih, saya bisa explore Sombori dan Toraja sekaligus. Akhirnya coba daftar ikutan trip nya, dan beruntung masih ada seatnya juga.

Desa Ollon Toraja
Udah ngebayangin bisamelihat pemandangan sebagus ini sambil guling-gulingan

Langsung deh terbayang, saya beneran bisa ke desa Ollon nih. Saat hari itu, saya sangat girang ibarat kata bisa sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Waaww! Jadi pas banget kan bisa traveling ke Sombori, Toraja dan Makassar dalam satu minggu. Gak nyangka bisa bisa beruntung seperti ini.

Sebelum pergi ke Toraja saya pun coba ajak peserta share cost yang ke Sombori, barang kali ada yang mau bareng buat explore Toraja. Dan bersyukur ada yang mau, awalnya tiga orang tapi mendekati hari keberangkatan nambah satu orang lagi, jadi totalnya berlima. Yesss!

Sebelumnya pun saya tanya dulu, kalian suka traveling ke tempat yang antimainstream gak? Kalau mau, nanti kita pergi ke desa Ollon. Jawabannya sih mau semua. Yesss lagi! Jadi saya bisa pergi ke Ollon gak sendiri dong, alias rame-rame.

Nah, ketika sampai di Toraja kami langsung menuju penginapan untuk istirahat. Sebelum masuk kamar, kami tanya-tanya tempat apa aja yang bisa di explore di Toraja kepada bapak yang jaganya? Beliau kasih tahu banyak tempat yang bisa di explore. Tapi sebelumnya kami juga sudah buat itinerary juga.

Dari penjelasan beliau, saya kurang percaya sih pas bilang kalau ke Ollon itu deket Cuma 2 jam juga sampai. Jelas-jelas saya udah dapat banyak informasi kalau ke desa Ollon itu membutuhkan 4 jam sekali perjalanan, bolak-balik 8 jam. Jadi butuh seharian kalau pergi ke sana.

Tapi yang lainnya percaya kalau ke Ollon itu cukup 4 jam perjalanan bolak-balik dan bisa pergi ke tempat lainnya. Saya sih yakin dengan informasi yang saya dapatkan jauh-jauh hari sebelum datang ke sini. Toh hasil research saya bukan ke satu dua blog kok, pokoknya cukup banyak.

Selain merekomendasikan tempat, bapak itu juga menyarankan pergi pake mobil Avanza, secara drivernya juga orang desa Ollon asli. Nah saya lebih gak percaya lagi kalau mobil Avanza bisa sampe ke sana, secara jalanan menuju ke sana ekstrim banget. Bukan apa-apa sih, cuma kasihan aja sama mobilnya.

Akhirnya kami pun berdebat, saya maunya tetap pake motor, yang lainnya mau pake mobil Avanza, dan yang satu pengennya sewa mobil jeep. Karena kalau sewa mobil jeep pun gak begitu mahal kok, kan semua biayanya dibagi lima orang.

Mobil Jeep
ngebayanginnya pingin naik mobil jeep seperti ini (sumber informasiotomotif.com)

Bukan masalah uang sih sebenernya, cuma kalau pake mobil saya kurang suka. Kenapa? Karena saya tipe orangnya “pelor”, nempel langsung molor. Rugi banget kalau traveling tapi sepanjang perjalanan tidur pulas. Gak bisa menikmati pemandangan yang indah. Setelah perdebatan yang alot sampai tengah malam, akhirnya kami memutuskan “oke pake motor”.

Selain menyarankan pake mobil Avanza, bapak yang jaga penginapan pun menawarkan sewa motor. Saya udah bilang maunya sewa motor Vario 125. Ternyata motor yang ada itu Vega R dan Blade. Saya pun tetap gak percaya kalau motor itu mampu dibawa ke desa Ollon, tapi bapak itu bilangnya motor ini sangat mampu dan bisa!

Masih gak percaya, saya pun coba cari tempat sewa motor Vario 125. Tapi hasilnya nihil, gak dapet satu tempat penyewaan karena udah di booking sama orang. Jadi sangat terpaksa pake motor yang dari penginapan.

Keesokan harinya saat kami mau berangkat, tiba-tiba bapaknya bilang “helm nya kurang satu”. Duh, kesel juga sih kaya gak niat banget bapaknya. Agak bingung juga kalau gak pake helm. Secara belum tahu tentang daerah sini kan. Dan bukannya apa-apa juga, ini demi keselamatan.

Untungnya, Kanda Iwan bawa dua helm, perasaanpun jadi plong. Jadi kami pergi ke desa Ollon menggunakan helm semua. Dan berangkatlah kami menuju desa Ollon. Seneng banget sih, tapi masih ada kekhawatiran dengan motor yang kami pinjam dari penginapan yang gak sesuai keinginan.

Biasanya, saya selalu mengikuti tips sewa motor saat traveling sebelum pake motor sewaan. Tapi kenapa saya hanya cek satu motor aja, motor yang satunya lagi lupa gak dicek. Rasa penyesalan pun datang setelah terjadi sesuatu.

Oh iya, saya hampir lupa ngenalin teman traveling ke Sombori, Makassar, dan Toraja. Mereka berempat adalah Dhani, Vonny, Andy, dan Haikal. Mereka semua orangnya asyik banget kalau diajak traveling, secara mereka punya jam terbang lebih banyak daripada saya. Hehehe..

Lanjut lagi ya ceritanya, jadi kami pake tiga motor, Dhani sama Vonny (secara mereka suami istri, yang bikin baper sih sebenernya) pake Vega R, Andy sama Haikal pake Blade, dan saya sama Kanda Iwan pake motor Aerox. Motor Kanda Iwan sih yang bagus banget, secara masih baru dan punya sendiri, perawatannya pun sudah pasti jelas.

Tips Sewa Motor Online Buat Traveling
Motor yang dipakai Haikal dan Andy

Tips Sewa Motor Untuk Traveling
Motor Aerox nya Kanda Iwan

Pagi itu, kami langsung berangkat menuju desa Ollon. Namun, satu motor kami ternyata bensinnya kosong. Jadi kami cari POM bensin terdekat buat isi dulu. Bersyukur POM bensinnya gak terlalu jauh dari penginapan. Setelah isi bensin, langsung melanjutkan perjalanan. This is our journey.

Selama perjalanan sih masih oke, karena jalannya masih bagus dan gak rusak parah. Ya mungkin karena ini masih di pinggiran kota, makanya sepanjang perjalanan masih nyaman. Cuma jalannya berliku-liku seperti di puncak gitu.

Baca: Lolai, Negeri Diatas Awan

Lagi asyik lihat pemandangan selama perjalanan (secara saya dibonceng Kanda Iwan ya), tiba-tiba terdengar suara “Gubrakkk” seperi ada yang jatuh. Saya langsung nengok ke belakang, dan lihat motor yang dipake Dhani dan Vonny terguling. Langsung saya minta Kanda Iwan berhenti.

Itulah penyesalan saya terjadi, kenapa lupa mengecek motor yang Vega R. Pas saya lihat ban nya emang udah gak ada rambutnya, itu udah pasti licin sih. Akhirnya yang bawa motor gantian, motor Vega R dibawa Andi dan membonceng Dhani, Vonny dibonceng Kanda Iwan, dan saya dibonceng Haikal.

Bukan hanya Dhani aja yang motornya terguling, motor yang saya dan Haikal pun juga terguling. Bukan sekali, tapi lebih dari sekali. Hahaha. Oleh karena itu, tulisan saya buat ini berjudul “Perjalanan Menantang Menuju Desa Ollon Toraja”. Memang perjalanan kali ini sungguh antimainstream.

Setelah merasakan perjalanan yang ekstrim, akhirnya kami berhenti di salah satu tempat yang namanya “Panorama Baba-baba”. Tempatnya warung gubuk gitu, tapi pemandangannya aduhai cantik. Dan dari sini, tampak terlihat bukit Ollon dari kejauhan.

Welcome to Panorama Baba-baba Toraja
Welcome To Panorama Baba-baba

Panorama Baba-baba Toraja
Terlihat hanya kami berenam saja yang berada di sini

Pemandangan Panorama Baba-baba
Pemandangan Panorama Baba-baba

Setelah istirahat dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan kembali. Selama diperjalanan kami cukup hati-hati, mengingat sudah ada kejadian yang tak diinginkan. Jadi gak terlalu ngebut, yang penting kami sampai dengan selamat. (bersambung) Cerita selanjutnya silahkan baca Keindahan Desa Ollon Yang Tiada DuanyaYuk Kuy

Gumuk Pasir Sumalu, The Hidden Paradise of Indonesia

Gumuk Pasir Sumalu Di Tana Toraja

Bukan Indonesia Namanya jika tak ada satu tempat yang memiliki surge tersembunyi. Keindahan alam yang mengagumkan sudah diyakini banyak orang, bahkan dunia. Tapi tahukah kamu ternyata di daerah Tana Toraja, Sulawasi ada spot baru yang masih banyak orang belum tahu. Salah satu hidden paradise nya adalah Gumuk Pasir di Samalu.

Kalau kamu pernah ke Yogyakarta, pasti tahu dong di sana pun ada Gumuk Pasir Parangkusumo? Banyak travel blogger yang sudah mengunjunginya. Uniknya kalau kamu pergi ke pantai, pasti berseluncur di air laut kan? Kalau di gumuk pasir, berseluncurnya diatas pasir.

Tapi, kali ini saya bukan membahas bagaimana serunya berselancar diatas pasir ya, melainkan tempat wisata yang masih belum diketahui banyak orang yaitu Gumuk Pasir Sumalu. Gumuk pasir ini terletak di Lembang Rantebua Sumalu, Dusun Buntu Rondo, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Baca: Negeri Di Atas Awan

Fenomena alam yang satu ini sungguh menggagumkan. Gumuk pasir yang berbentuk seperti kumpulan bukit dengan gradasi warna yang unik. Selain itu, teksturnya juga lebih kasar dibandingkan dengan pasir pada umumnya. Lebih tepatnya seperti batuan kerikil.

Gumuk Pasir Sumalu Di Tana Toraja
Penampakan Gumuk Pasir Sumalu, Toraja Utara

Gumuk Pasir Samalu ini mulai ditemukan dan dikenal sekitar tahun 2016. Jadi, objek wisata ini masih dikatakan baru. Tapi gak banyak traveller yang tahu tempat ini lho. Saya pun merasa beruntung bisa datang ke tempat yang indah ini.

Awalnya gak kepikiran buat explore toraja dan mampir ke sini, tapi ternyata ada teman trip yang katanya kepengen explors sini. Saya sih ngikut aja, lagian itinerary saya masih sedikit. Jadi gak ada salahnya kan untuk coba melipir ke sini.

Gak terlalu sulit kok buat sampai ke tempat ini, asalkan berani bertanya saja. Walaupun sebagian orang juga ada yang belum tahu gumuk pasir ini. Tapi yang penting adalah tanya rute desa Sumalu, dan kebanyakan pada tahu untuk nama desa tersebut.

Untuk akses jalannya cukup oke lah, gak parah-parah banget. Cuma kalau pakai mobil, jalanannya sempit dan hanya cukup untuk satu mobil saja. Selama di perjalanan saya sih mikirin, kalau ada dua mobil yang saling berlawanan gimana ini? Mana pinggirnya jurang lagi, kan gawat.

Selain jalannya gak semulus seperti jalan tol, bentuknya juga gak lurus alias meliuk-liuk seperti di puncak. Jadi setiap tikungan sebaiknya membunyikan klakson agar bisa kasih tahu ke kendaraan yang berlawanan arah dan mengindari kejadian yang tidak diinginkan.

Gumuk Pasir Sumalu Di Tana Toraja
pertama kali sampai, langsung disuguhi penampakan yang indah

Sebenarnya agak salah waktu sih datang ke sini, karena pas banget sampe sini pas siang hari. Yang mana sinar matahari sedang “hot-hot” nya menyinari bumi ini. Jadi sinarnya cukup membakar kulit ini dan membuat saya dehidrasi. Ditambah lupa juga bawa minum, karena dipikir cuma sebentar saja. Eh tahunya cukup lama juga maen di pasirnya, betah sampe gak mikirin kulit yang udah terbakar.

Gumuk Pasir Sumalu Di Tana Toraja
Panas pun rela main di pasir

Gimana gak betah coba bisa maen di pasir yang bisa dinaikin. Kalau zaman waktu kecul dulu suka banget maen pasir kalau ada yang sedang bangun rumah, bikin lubang jebakan lah atau lainnya sampai dimarahin sama yang punya. Karena itu kan pasir buat bangun rumah bukan buat mainan. Nah begitu main ke Gumuk Pasir Sumalu, jadi ingat masa lalu deh. Hehehe..

Pas pertama kali injak pasir nya karena mau naik ke puncaknya agak salah injak sih, harusnya injak yang bagian gundukannya tapi saya injak bagian pinggirnya. Jadi saya bikin longsor pasir nya deh, dan pakaian pun jadi kotor. Tapi gak apa-apalah, berani kotor itu baik.

Gumuk Pasir Sumalu Di Tana Toraja
Bukit pasir yang dikelilingi pegunungan

Gak menyerah sampai di situ, saya terus cari cara gimana caranya biar injak pasir gak longsor. Akhirnya cari gundukan pasir lainnya yang kelihatannya oke untuk di injak. Dan akhirnya berhasil juga bisa berdiri diatas gundukan pasir dengan sempurna tanpa membuat longsoran pasir.

Saking asiknya main pasir dan lupa ternyata keringat sudah bercucuran, akhirnya tersadar juga ternyata saya terkena dehidrasi. Karena haus banget, jadi saya coba sudahi saja aktivitas bermain diatas pasirnya. Dan yang tak kalah capeknya adalah ketika saya harus nanjak untuk pulangnya. Sudah capek, haus, dan harus nanjak lagi.

Sesekali istirahat dan duduk di tiap pertengahan jalan, karena gak kuatnya harus jalan lagi. Mana tempatnya sepi, gak ada penduduk. Tapi ada orang juga sih yang lagi bangun rumah. Lihat ada teko (tempat air minum) rasanya ingin minta saja, tapi gak enak ah. Mana mereka lagi kerja, masa diminta air minumnya. Kan mereka juga sama-sama haus, bahkan lebih capek mungkin.

Jadi saya paksakan saja perlahan-lahan untuk segera naik dan ambil air minum. Rasanya hampir nyerah aja gitu, tapi cukuplah istirahat sedikit-sedikit untuk menghemat tenaga. Dan akhirnya kuat juga bisa sampai atas dan langsung cepat-cepat ambil air. Begitu air masuk tenggorokan, lega banget rasanya.

Gumuk Pasir Sumalu Di Tana Toraja
Rasanya ingin sekali berlama-lama di sini

Setelah haus hilang, saatnya meninggalkan tempat yang luar biasa indahnya. Jujur belum puas banget bisa menikmati fenomena ala mini, karena belum pernah lihat sebagus Gumuk Pasir Sumalu.

Oh iya, ada satu yang baru aku dengar. Jadi sebelum saya tiba ditempat ini, saya bertanya ke salah satu warga tapi jawabannya agak ngelantur gitu. Saya kira komunikasi Bahasa saya yang sult dimenegerti olehnya, tapi ternyata dia habis minum “Ballo’ Toraya”.

Baca: Cara Mengatasi Homesick Saat traveling

Ada yang tahu Ballo’ Toraya itu apa? Ballo’ Toraya adalah salah satu minuman khas Toraja yang mengandung alcohol. Mungkin Bahasa yang kita tahu adalah tuak. Bisa juga disebut Ballo’ Toraya adalah tuak nya Toraja.

Mungkin karena itulah salah satu warga yang saya tanya jawabannya ngelantur. Tapi untungnya ada ibu-ibu yang nashi tahu arah dan patokan lokasinya. Akhirnya saya bisa sampai ke sini. Terima kasih Ibu dan bapak (walaupun jawabnya ngelantur).

Nah itulah sedikit pengalaman yang saya bisa share ketika menemkukan tempat yang luar biasa keren di Toraja, Gumuk Pasir Sumalu. Kalau kamu ingin pergi ke sini, sebaiknya pergilah pagi-pagi dan bawa air minum agar tidak terkena dehidrasi. Jika ada kesempatan untuk pergi ke Toraja, saya pasti akan datang ke sini lagi, karena masih ada sesuatu yang membuat saya tertarik dan penasaran. – Budi Setiadi

Pertama Kali Lebaran Di Daerah Yang Mayoritas Non Muslim

Pertama Kali Lebaran Di Tana Toraja, Sulawsi Yang Mayoritasnya Non Muslim

Ketika lebaran tiba, sudah tak asing lagi dengan yang namanya mudik, alias pulang kampung. Tapi kali ini bukan lebaran Idul Fitri ya, namun Idul Adha. Jadi sebutan mudik itu gak terlalu dipakai pada momen ini. Namun, ada cerita unik dari pengalaman lebaran kali ini, karena ini pertama kalinya saya lebaran di daerah yang mayoritasnya non muslim, tepatnya di Tana Toraja.

Awalnya memang sudah niat banget untuk bisa merasakan momen lebaran di Toraja, karena kamu juga sudah tahu kan daerah ini penduduk yang beragama Islam adalah minoritas. Justru itulah yang daya tariknya. Saya penasaran sekali bagaimana rasanya bisa berlebaran di sana.

Sebelum pergi ke sana, saya sempat berpikir dan bertanya-tanya pada diri sendiri, ada banyak masjid gak ya di sana? Karena kalau lebaran kan shalatnya harus berjama’ah di masjid dan gak boleh sendirian. Sempat ragu sih dan ada keinginan untuk membatalkannya. Tapi karena ini kesempatan langka, akhirnya saya memutuskan untuk tetap berangkat.

Namun jauh-jauh hari, saya melakukan research terlebih dahulu sebelum ke sana. Tanya sana tanya sini untuk dapatkan informasi yang meyakinkan saya untuk tetap pergi ke sana. Bahkan saya sendiri cari seorang guide untuk bisa menemani. Tapi ujung-ujungnya gak jadi pakai guide, karena ada yang kasih saran lebih baik tidak pakai guide. Orang-orang Toraja itu baik dan ramah.

Baca juga: Bersihkan Hari Aktifmu Untuk Persiapan Traveling

Selama diperjalanan kepikiran banget sama orang Toraja, benar gak ya orangnya baik dan ramah? Secara orang Indonesia yang ketimur-timuran itu mukanya cukup sangar. Karena saat research itu, dapat kontak dan lihat foto di profil whatsapp nya memang tampangnya sangar-sangar sih.

Tapi setelah sampai di sana, beneran orangnya baik dan ramah. Hanya tampangnya saja yang terlihat menyeramkan, tapi sikapnya memang baik dan ramah banget. Apalagi kalau saya bertanya sesuatu, mereka pun semangat untuk memebritahukannya.

Saya mendapatkan informasi kalau tempat yang mengadakan shalat I’ed di Toraja itu ada di Makale dan Rantepao. Kalau gak salah dengar (dengar dari mobil yang memberitahukan dengan toa), di Makale itu shalat nya di lapangan. Sedangkan di Rantepao shalatnya di Masjid Raya Rantepao.

Kebetulan banget, penginapan yang saya sewa itu cukup dekat dengan Masjid Raya Rantepao. Hanya perlu berjalan kaki sekitar 200 meter sudah sampai. Jadi gak perlu khawatir terlalu jauh buat ikut shalat I’ed nya.

Pada malam hari pas malam takbiran, saya mencoba untuk cari tahu jadwal shalat nya, dan sekaligus mau laundry pakaian juga. Tempat laundry nya persis dekat masjid tersebut. Ketika melihat depan masjid, beruntung ada bapak-bapak yang baru keluar dan saya pun langsung menghampirinya.

Saat saya mendekati, mereka melihat saya dengan tatatpan yang berbeda. Mungkin terlihat seperti warga asing. Tapi saya menghiraukan tatapannya dan langsung bertanya, “permisi pak, saya mau tanya besok jadwal shalat I’ed jam berapa ya?”. Jam 7 pagi mas sudah mulai, usahakan sebelum jam 7 sudah di sini ya, jawab salah satu dari mereka. Lalu mereka melanjutkan pertanyaan, “mas nya dari mana dan tinggal di mana?”. Saya dari Jakarta dan tinggal di wisma sebelah situ, jawab saya. Oh kenapa harus sewa penginapan, padahal bisa tinggal di sini saja, jawab bapak yang satunya lagi.

Hmmm agak bingung juga sih mau bilang apa lagi, tapi biar gak kaku saya coba jawab “oh memangnya boleh ikut tidur di masjid ya pak? Soalnya saya baca beberapa referensi gak ada yang punya pengalaman tidur atau tinggal di masjid selama di Toraja”. Oh kebetulan memang baru jadi juga tempatnya. Jadii Masjid Raya Rantepao ini baru jselesai di renovasi dan wisma nya juga baru dibuat. Kalau ada yang berkunjung dan mau menginap silahkan saja, lanjutan jawaban bapak itu.

Oh terima kasih banyak atas tawarannya pak, karena saya sudah menyewa penginapan jadi saya tidurnya di sana saja. Sekali lagi terima kasih banyak pak. Saya pamit dulu ya pak, mau istirahat karena kan besok mau ikut shalat dan explore Tana Toraja lagi, saya berpamitan dan meninggalkan mereka.

Keesokan harinya, niat hati ingin mengikuti shalat I’ed tepat waktu, tapi karena traveling ke Toraja tidak terlalu lama dan saya tertarik sekali ingin ke Lolai, sebuah tempat yang disebut Negeri Diatas Awan. Jadi saya pun memutuskan untuk pergi ke sana terlebih dahulu. Setelah itu baru cari masjid di sekitarnya.

Setelah subuh, saya langsung berangkat menuju Lolai, tapi selalu liat jam agar tidak ketinggalan shalat I’ed, karena inilah momen yang saya nantikan. Tepat jam 06.30 WITA, saya langsung turun dari Negeri Diatas Awan itu. Sepanjang jalan memperhatikan sebelah kanan-kiri cari masjid, berharap bisa menemukan masjid terdekat.

Ternyata di sekitar Lolai belum melihat satu pun masjid, dan saya cari orang yang bisa untuk bertanya. Mungkin karena masih pagi juga, jadi di sepanjang jalan hanya sedikit orang yang ada di pinggir jalan. Ketika melihat anak kecil yang seusia anak SMP, saya langsung bertanya saja “Dek permisi mau tanya, kalau masjid terdekat di sini di mana ya?”. Tidak tahu kak, jawabnya.

Dan saya pun terus melaju dan berusaha mencari masjid terdekat. Sudah dua kali bertanya ke anak kecil jawabannya tidak tahu. Akhirnya berpikir ya sudah saya balik lagi ke Rantepao saja. Tapi di perjalanan ada seorang laki-laki dan saya coba bertanya, “permisi pak, saya mau tanya kalau masjid terdekat di sini di mana ya? Soalnya saya mengejar shalat I’ed”. Wah kalau di sini tidak ada, yang ada hanya ada di Rantepao saja, jawabnya.

Dan saya pun langsung ngebut agar bisa sampai Masjid Raya Rantepao, karena melihat jam masih pukul 06.40 WITA. Wah keburu gak ya sampe sana, karena kan gak mau ketinggalan. Beruntung jalanan di sini gak macet seperti di Jakarta, jadi kemungkinan besar bisa sampai Rantepao jam 07.00 WITA.

Setelah ngebut dan tidak melihat jam, akhirnya tiba di dekat Masjid Raya Rantepao. Saya melihat orang-orang sudah ramai dan mau pada berdiri. Artinya shalat I’ed pun mau di mulai. Seketika saya pun bingung, karena belum wudhu. Kan gak sah kalau shalat tanpa wudhu.

Pertama Kali Lebaran Di Tana Toraja, Sulawsi Yang Mayoritasnya Non Muslim
Suasana shalat I’ed di Masjid Raya Rantepao

Tepat banget saya berhenti di sebuah warung, dan ada seorang ibu-ibu sedang menyiram bunga miliknya. Saya pun tanpi piker-pikir lagi langsung menghampirinya dan bilang “bu maaf sebelumnya, airnya boleh saya minta tidak untuk berwudhu, karena saya mengejar ikut shalat?” Oh silahkan pakai saja, kebetulan juga airnya baru saya ambil dan bersih kok, jawabnya.

Baca juga: Cara Mengatasi Homesick Saat traveling

Langsung saya pakai airnya itu untuk wudhu. Ini wudhunya buru-buru banget karena takut ketinggalan. Selama berwudhu, ibunya itu kasih semangat “ayo mas buruan, orang-orang sudah mau mulai”. Mungkin kalau ibu itu seorang cheerleader menyemangatinya pake pom-pom kali ya? Hahaha.

Setelah saya selesai berwudhu, saya langsung bilang “makasih ya bu” dan langsung lari terbirit-birit. Huh untungnya masih bisa ikut dan merasakan shalat I’ed dan lebaran di Toraja. Inilah salah satu target dan alasan traveling ke Tana Toraja. Jarang sekali kan travel blogger bisa mendapatkan momen seperti ini.

pertama kali lebaran di tana toraja sulawesi tidak mudik ke kampung halaman 1 1024x768 - Pertama Kali Lebaran Di Daerah Yang Mayoritas Non Muslim
Suasana usai shalat I’ed

Saya kira shalat di sini sama seperti di kampung halaman saya yang selesainya pukul 08.30 atau maksimal pukul 09.00, dan ternyata beda. Di sini lebih cepat, karena jam 07.30 WITA saja sudah selesai. Agak kaget sih, dikira lebih lama. Tapi secara umum semuanya sama dan tidak ada perbedaan pada proses shalat I’ed nya. Hanya saja lebih cepat pada khutbahnya.

Setelah selesai shalat I’ed, saya pun melanjutkan untuk explore tempat lainnya di Toraja. Akhirnya, saya bisa merasakan pertama kali lebaran di tempat yang mayoritas non muslim, walaupun diiringi dengan rasa terburu-buru. Dan inilah pengalaman saya bisa berlebaran tidak mudik ke kampung halaman. – Budi Setiadi