Warning: date() expects parameter 2 to be integer, string given in /home/yukkuyid/public_html/wp-content/themes/desert/includes/core/core_schema.php on line 117

Warning: date() expects parameter 2 to be integer, string given in /home/yukkuyid/public_html/wp-content/themes/desert/includes/core/core_schema.php on line 117

Warning: date() expects parameter 2 to be integer, string given in /home/yukkuyid/public_html/wp-content/themes/desert/includes/core/core_schema.php on line 118

Warning: A non-numeric value encountered in /home/yukkuyid/public_html/wp-includes/formatting.php on line 3619

Warning: date() expects parameter 2 to be integer, string given in /home/yukkuyid/public_html/wp-content/themes/desert/includes/core/core_util.php on line 392

Warning: A non-numeric value encountered in /home/yukkuyid/public_html/wp-includes/formatting.php on line 3619

Warning: date() expects parameter 2 to be integer, string given in /home/yukkuyid/public_html/wp-content/themes/desert/includes/core/core_util.php on line 392

Warning: A non-numeric value encountered in /home/yukkuyid/public_html/wp-includes/formatting.php on line 3619

Warning: date() expects parameter 2 to be integer, string given in /home/yukkuyid/public_html/wp-content/themes/desert/includes/core/core_util.php on line 392

Warning: A non-numeric value encountered in /home/yukkuyid/public_html/wp-includes/formatting.php on line 3619

Warning: date() expects parameter 2 to be integer, string given in /home/yukkuyid/public_html/wp-content/themes/desert/includes/core/core_util.php on line 392

Warning: A non-numeric value encountered in /home/yukkuyid/public_html/wp-includes/formatting.php on line 3619

Warning: date() expects parameter 2 to be integer, string given in /home/yukkuyid/public_html/wp-content/themes/desert/includes/core/core_util.php on line 392

Warning: A non-numeric value encountered in /home/yukkuyid/public_html/wp-includes/formatting.php on line 3619

Warning: date() expects parameter 2 to be integer, string given in /home/yukkuyid/public_html/wp-content/themes/desert/includes/core/core_util.php on line 392

Desa Wisata Penglipuran, Cikal Bakal Adat Dan Budaya Bali

desa-adat-wisata-penglipuran-bali

Indonesia adalah salah satu negara tropis yang indah di dunia. Oleh karenanya, Indonesia sangat beruntung sekali diberikan anugerah kekayaan alam yang eksotis. Salah satu daerah yang beruntung adalah Bali, karena ada satu desa yang masih asri dan terus dilestarikan. Tempat tersebut yaitu Desa Adat Penglipuran yang ada di Ubud.

Bukan hanya pantai dan gunung saja yang terkenal di Bali, namun adat dan budaya nya pun sangat kental. Berbagai tradisi leluhur pun masih dilaksanakan dan dilestarikan hingga saat ini. Walaupun zaman sudah modern, namun salah satu daerah di sana tak cepat berubah dan masih seperti dahulu.

Tradisi leluhur yang tak pernah punah selalu mereka jaga. Walaupn banyak faktor eksternal yang masuk ke kawasannya, mereka tak akan melakukan perubahan secara signifikan. Mereka selalu menjalankan tradisinya, dan bisa dibilang inilah falsafah Bali sesungguhnya.

Tahukah kamu desa yang paling bersih di dunia itu di mana letaknya? Jawabannya sangat mencengangkan. Nama desa tersebut adalah Desa Wisata Penglipuran yang ada di Ubud, Bali. Wowww sebagai warga negara Indonesia, kita patut berbangga atas prestasi tersebut.

Selain Indonesia yang mempunyai desa terbersih, ada juga di Belanda yang namanya Desa Giethroon dan di India ada Desa Mawlynnong. Desa-desa tersebut merupakan daerah yang sangat bersih, bebas dari sampah. Kebersihan tersebut bisa kamu rasakan karena tingkat kesadaran masyarakat sekitar sangat tinggi yang sudah ditanamkan sejak nenek moyang mereka.

Pertama kali masuk ke area Desa Wisata Penglipuran, kamu akan disuguhkan dengan orang-orang yang sangat ramah, tempat yang rapi dan bersih, dan pemandangan yang sungguh damai. Rasa-rasanya pengen tinggal di sini lebih lama.

Baca : Broken Beach, Spot Foto Yang Instagramable di Nusa Penida Bali

Di tiap sudut tempatnya memang sangat jarang ditemukan sampah berserakan. Saya pun gak ngeliat sampah satupun selama di sana. Bagi saya, ini adalah sesuatu yang harus diapresiasi dan ditiru oleh kita. Kita tuh harus belajar banyak dari mereka, warga Desa Penglipuran Bali.

Rumah Adat Desa Wisata Penglipuran

Rumah Adat Wisata Penglipuran Bali

Ada satu yang unik dan menjadi ciri khas dari Desa Penglipuran ini yaitu rumah adat yang terbuat dari bambu, atau disebut rumah bambu. Kenapa rumahnya terbuat dari bambu? Karena area sekitar desa tersebut dikelilingi oleh hutan bambu. Jadi wajar saja kalau rumah mereka terbuat dari bambu.

Saya cukup penasaran banget pingin lihat apa sih isi rumahnya? Karena rumahnya itu ukurannya gak begitu besar. Jadi kira-kira apakah isinya hanya kamar aja atau ada yang lainnya juga denga rumah minimalis seperti itu.

Setelah saya minta izin kepada pemilik rumahnya, jadi langsung masuk demi menghilangkan rasa penasaran. Dan kamu tahu isinya ada apa aja? Jawabannya komplit. Semuanya ada, mulai dari tempat tidur, dapur, tempat menyimpan barang-barang, dan lainnya.

Sungguh takjub dibuatnya. Saya rasa nenek moyang mereka sangat cerdas dalam hal penataan rumahnya. Walaupun ukurannya minimalis, namun seperti disulap menjadi terkesan luas. Mau tahu isinya? Kita lihat yuk penampakannya:

Rumah Adat Wisata Penglipuran Bali
Dapur yang ada di dalam rumah
rumah adat wisata penglipuran bali 1 1024x768 - Desa Wisata Penglipuran, Cikal Bakal Adat Dan Budaya Bali
Tempat istirahat
Rumah Adat Wisata Penglipuran Bali
Tempat tidur sekaligus digunakan untuk menyiapkan sesajen
Rumah Adat Wisata Penglipuran Bali
Bentuk atap rumah dari dalam, uniknya bisa digunakan sebagai penyimpanan barang-barang (semacam gudang)

Gimana unik bukan? Coba bayangin aja satu keluarga diisi 5 orang. Gimana tuh posisi tidurnya? Terus kalau mau nambah (bikin) anak gimana? Sedangkan anak-anak yang lainnya tidurnya bersamaan. Opsss

Tradisi Masyarakat Desa Wisata Penglipuran

Masyarakan Desa Adat Wisata Penglipuran Bali
Salah satu warga desa adat Penglipuran yang sedang memeberikan sesajen

Kalau sudah pernah ke Bali dan melihat kebiasaan mereka, sudah gak asing lah ya tentang pemberian “sesajen”. Karena mereka menganut kepercayaan Hindu bahkan termasuk sangat religius, jadi mereka rutin memberikan itu.

Bukan hanya sekali dalam memberikan sesajennya, namun bisa lebih dari sekali dalam sehari. Masyarakat Bali memang percaya bahwa setiap tempat ada roh yang menunggunya. Jadi mereka memberikan sesajen secara rutin.

Hutan Bambu Yang Instagramable

Hutan BAmbu Desa Adat Wisata Penglipuran Bali Instagramable

Nah biasanya kalau ngomongin bambu, pasti sering denger kata “angker” kan. Memang banyak mitos yang bilang, jangan dekat-dekat atau main ke hutan bambu nanti diculik penunggunya. Kamu percaya gak dengan mitos itu?

Kalau dipikir secara logika, bukan takut diculik penunggunya sih tapi hutan bambu kan daunnya bergugurannya banyak dan berserakan, jadi terkesan kotor dan seram. Aslinya mungkin biasa aja, bahkan gak ada apa-apa.

Nah bedanya hutan bambu yang ada di Desa Penglipuran, Bangli ini gak seseram hutan bambu pada umumnya. Di sini lebi bersih dan rapi, ditambah jalanannya pun bagus. Jadi ikon hutan bambu yang menyeramkan itu gak berlaku di sini. Justru bikin tempat ini jadi spot foto yang bagus dan instagramable.

Baca : Pejalanan Menantang ke Desa Ollon

Saya sih suka banget tempat ini, tapi pas lagi foto biar kaya travel blogger Indonesia yang hits tiba-tiba ada anjing mendekat. Karena saya takut banget sama anjing, jadi buru-buru kabur dan lari dari tempat fotonya. Hahhaha dasar yaaa. Padahal tempatnya keren banget, asli deh.

Bahkan area hutan ini sering dipakai sebagai jalur bersepeda oleh orang yang mengadakan outbound atau outing kantor. Dan kalau jogging di sinipun sepertinya menarik banget, secara udaranya bikin segar. Lumayan bisa menghilangkan kepenatan.

Pura Di Desa Wisata Penglipuran

Pura Desa Adat Wisata Penglipuran Bali
Di depan Pura Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Bali

Bukan Bali namanya kalau gak ada pura. Mayoritas masyarakat Bali menganut agama Hindu. Jadi sudah pasti banyak pura di sana, bahkan hampir di tiap sudut terdapat pura. Sama dengan daerah lainnya, di desa wisata Penglipuran inipun terdapat pura.

Sayangnya ketika saya datang ke sana gak sempat masuk, karena sedang ada ibadah. Jadi pengunjungpun tak dianjurkan untuk melihat dan merasakan dengan langsung. Kalau foto di depannya sih boleh-boleh aja.

Harga Tiket Masuk

Salah satu tempat wisata yang gak bikin kantong bolong di Bali adalah desa ini. Menurut saya pribadi, harga tiket masuknya gak begitu mahal, sedang-sedang aja kok. Daftar harganya seperti berikut:

Untuk turis lokal atau domestik : Rp. 15.000,-

Untuk toris internasional : Rp. 30.000,-

Dan di sana juga gak usah khawatir mengenai tempat parkir kendaraannya. Justru di sana sangat mudah untuk memarkirkan kendaraanmu. Dan yang paling enak itu tempat parkirnya aman. Saya sih gak merasa takut gimana-gimana.

Lokasi Desa Adat Penglipuran

Desa adat Penglipuran secara geografis terletak di kelurahan Kubu, kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Kalau kamu mau explore Bali, lokasi desa wisata Penglipuran ini bisa dibilang sangat strategis. Ketika kamu ke sini, bisa sekalian explore berbagai tempat di sekitarnya. Bahkan kalau ma uke Kintamani pun bisa melewati jalur ini.

Kalau kamu tinggalnya di Kuta, untuk mencapai ke sini membutuhkan waktu sekitar 90 menit atau 1,5 jam menggunakan kendaraan bermotor. Kalau saya sendiri pake motor, lebih enak aja gitu. Kalau pake mobil pun gak masalah kok, jalanannya gak terlalu macet.

Gimana, menarik banget kan buat liburan ke sini? Kamu bisa ngerasain gimana desa dan masyarakat Bali yang asli dari dulu sampai sekarang yang tradisinya masih dilestarikan. Jadi kamu bisa tahu juga kehidupan Bali masa lalu di masa kini. – Jalan yuk, kuy jalan

Budi Setiadi
Budi Setiadi
Berprofesi sebagai seorang digital marketer di salah satu e-commerce Indonesia sekaligus menyukai traveling, saya pun ingin menjadi seorang travel blogger Indonesia. Tujuannya adalah bisa berbagi informasi, pengalaman pribadi, dan semoga apa yang saya share bisa bermanfaat bagi banyak orang.

2 Comments

  • Wah, desanya cantik sekali. Sering mendengar soal desa ini, tapi belum pernah kesampaian mampir pas lagi liburan di Bali.

    • Yah sayang banget, pokoknya kalau ke Bali wajib dateng ke tempat ini. dan nginepnya di daerah Ubud aja biar deket..

Leave a Comment